Situs Wilmartoto – Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) menjadi sorotan setelah pengembangan alat kecerdasan buatan bernama Deep Loop Shaping. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan LIGO dalam mendeteksi gelombang gravitasi, yaitu riak halus dalam ruang-waktu yang dihasilkan oleh tabrakan lubang hitam dan bintang neutron. Teknologi ini diungkapkan dalam studi yang diterbitkan oleh jurnal Science.
Tim peneliti, yang terdiri dari ilmuwan LIGO dan Google DeepMind, berbagi hasil studi yang menunjukkan bahwa Deep Loop Shaping mampu menurunkan tingkat gangguan pada sistem LIGO, termasuk di lokasi pengamatan di Louisiana dan Hanford, Washington. Jonas Buchli, ilmuwan utama proyek ini, menyatakan bahwa alat ini dapat mengurangi kebisingan pada umpan balik yang paling tidak stabil di LIGO, menjadikannya inovasi revolusioner dalam penelitian gelombang gravitasi.
Gelombang gravitasi pertama kali terdeteksi pada 2015, setelah prediksi Albert Einstein lebih dari satu abad lalu. Sejak itu, tim LIGO berusaha meningkatkan sensitivitas detektor mereka, mengingat bahwa perubahan yang harus dideteksi lebih kecil dari satu persepuluh ribu lebar proton. Hal ini membuat detektor rentan terhadap gangguan dari aktivitas bumi dan laut.
Dalam pengujian awal, Deep Loop Shaping menunjukkan kemampuan untuk menenangkan gerakan cermin detektor hingga 100 kali lebih baik dibandingkan metode pengurangan kebisingan tradisional. Jan Harms, profesor di Gran Sasso Science Institute, mengungkapkan bahwa teknik ini berpotensi membuka jendela baru dalam astronomi, terutama dalam mendeteksi tabrakan bintang neutron.
Ke depan, tim LIGO merencanakan pengujian lebih panjang untuk Deep Loop Shaping, dan berpotensi menerapkan teknologi ini tidak hanya dalam penelitian gelombang gravitasi, tetapi juga dalam banyak bidang yang memerlukan kontrol presisi tinggi.

